DPRD Nilai Hilirisasi Kakao dan Kelapa Dalam Jadi Peluang Dongkrak Ekonomi Kampung

INFO TERKINI BERAU || BERAU – Dukungan terhadap agenda hilirisasi sektor pertanian yang digagas Pemerintah Kabupaten Berau terus mengalir. Kali ini, perhatian tertuju pada komoditas kakao dan kelapa dalam yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui proses pengolahan.

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman, menyebut penguatan sektor hilir menjadi langkah penting agar hasil pertanian tidak lagi berhenti pada penjualan bahan baku. Menurutnya, pola lama yang hanya mengandalkan penjualan mentah membuat keuntungan yang diterima petani relatif terbatas.

“Selama ini kita masih menjual dalam bentuk bahan baku. Kalau sudah diolah menjadi produk turunan, tentu nilai jualnya akan jauh lebih tinggi dan itu berdampak langsung pada pendapatan masyarakat,” katanya.

Baca Juga :  DPRD Berau Dorong Penanganan Serius Konflik Buaya, Usulkan Penangkaran sebagai Solusi

Ia menjelaskan, kakao dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan seperti bubuk cokelat maupun makanan olahan, sementara kelapa dalam memiliki peluang diolah menjadi minyak, santan kemasan, hingga produk turunan lainnya. Diversifikasi produk ini diyakini mampu membuka lapangan kerja baru di tingkat kampung.

Namun demikian, Sakirman mengingatkan agar rencana tersebut disiapkan dengan perencanaan yang matang. Ia menilai kesiapan sarana produksi, pelatihan sumber daya manusia, serta akses pasar harus dipastikan sejak awal.

“Jangan hanya membangun tempat pengolahan, tetapi harus dipikirkan juga bagaimana keberlanjutan usahanya. Petani dan pelaku UMKM perlu dibekali keterampilan agar bisa terlibat langsung,” tegasnya.

Baca Juga :  Sakirman Ajak Warga Berau Kibarkan Bendera Merah Putih Sambut HUT RI ke-80

Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk menggandeng pihak swasta dan perguruan tinggi dalam memperkuat teknologi pengolahan serta strategi pemasaran. Sinergi lintas sektor dinilai penting agar produk kakao dan kelapa dalam Berau mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.

Lebih lanjut, Sakirman menekankan perlunya pemetaan sentra produksi di tiap kampung. Menurutnya, data yang akurat akan memudahkan penentuan lokasi pengembangan industri kecil berbasis potensi wilayah.

“Kita ingin pengembangan ini berbasis kekuatan kampung. Dengan pemetaan yang jelas, program hilirisasi bisa tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya.

Baca Juga :  DPRD Berau Desak Evaluasi Kinerja BUMD, Kontribusi PAD Jadi Sorotan

(suc/adv)