INFO TERKINI BERAU, Tanjung Redeb – Pengembangan sektor pariwisata di Kepulauan Derawan dan Maratua kini menjadi perhatian serius, terutama dalam upaya menarik minat wisatawan mancanegara asal Australia, Singapura, hingga Malaysia. Upaya promosi besar-besaran yang dilakukan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dinilai akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan dukungan fasilitas dan regulasi yang kuat di lapangan.
Narasumber menekankan bahwa keterbukaan terhadap wisatawan asing adalah hal yang sangat diharapkan bagi kemajuan daerah. Namun, ia mengingatkan agar semangat promosi tersebut sejalan dengan kesiapan infrastruktur pendukung di destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau tersebut.
“Jangan sampai promosi yang dilakukan oleh OPD terkait itu sia-sia kalau memang tidak ada keinginan kita untuk mendukung itu,” tegas narasumber saat memberikan tanggapannya mengenai upaya menggaet pasar internasional.
Salah satu aspek krusial yang terus disuarakan kepada Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pariwisata serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) adalah masalah pengelolaan sampah. Kebersihan lingkungan menjadi indikator utama kenyamanan bagi para pelancong, terutama turis dari luar negeri yang sangat sensitif terhadap isu sanitasi.
Menurutnya, tanpa lingkungan yang bersih, wisatawan akan merasa kapok untuk datang kembali. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dalam menjaga kelestarian alam dan estetika kepulauan agar daya tarik wisata tetap terjaga secara berkelanjutan.
“Kebersihan itu yang paling kita utamakan karena tamu itu kan ya berkepentingan dengan kebersihan itu. Kalau daerah kita kotor, ya mereka juga akan nanti jera untuk kembali berkunjung,” tambahnya.
Selain masalah kebersihan, narasumber juga menyoroti pentingnya pembentukan regulasi yang mengatur standarisasi pelayanan di sektor pariwisata. Regulasi ini diharapkan dapat mencakup standar operasional bagi pengelola hotel hingga penyedia jasa kuliner di wilayah pesisir tersebut.
Adanya standarisasi harga sangat penting agar masyarakat atau pelaku usaha tidak menetapkan tarif secara sepihak yang dapat merugikan wisatawan. Ketidakpastian harga seringkali menjadi keluhan utama yang mencoreng citra pariwisata di mata dunia internasional.
“Kita berharap ada regulasi yang terkait mengatur tentang tata cara bagaimana standarisasi baik itu hotel maupun makanan. Jadi ada standar tertingginya, jadi masyarakat juga tidak seenaknya menetapkan harga-harga,” jelasnya lebih lanjut.
Terkait peresmian Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) oleh Bupati Berau di Derawan awal tahun ini, narasumber memberikan apresiasi sekaligus catatan. Ia mendorong agar fasilitas tersebut segera dilengkapi dengan sarana pendukung yang memadai agar dapat beroperasi secara maksimal.
Dukungan fasilitas penyempurnaan harus segera dipenuhi agar pembangunan gedung tidak hanya berakhir sebagai simbol tanpa fungsi yang nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Hal ini telah disampaikan langsung kepada pihak pemerintah kampung saat melakukan kunjungan kerja beberapa waktu lalu.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pariwisata Berau harus terus melahirkan terobosan baru agar wisatawan merasa betah. Komitmen antara kata dan perbuatan dari pemerintah daerah sangat dinantikan agar potensi alam yang indah tidak hanya sekadar menjadi wacana dalam dokumen promosi saja.Tutupnya
Reporter : Bima
Editor : M Saha














