Info Terkini Berau.Com || Kutim || Jam menunjukkan pukul 00.00 Wita ketika rombongan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur tiba di Desa Karangan Ilir, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur. Malam gelap masih menyelimuti kampung yang berada jauh dari hiruk-pikuk kota itu. Di usia Republik Indonesia yang telah mencapai 80 tahun, desa ini justru baru bersiap menyambut satu hal paling mendasar: listrik negara.
Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, mengaku sengaja datang tengah malam untuk melihat langsung bagaimana kehidupan warga yang selama puluhan tahun hidup tanpa aliran listrik PLN.
“Kami berkunjung ke Desa Karangan Ilir ini pukul 12 malam, untuk melihat secara langsung bagaimana desa ini hidup tanpa listrik sejak Indonesia merdeka. Sudah 80 tahun, desa ini belum pernah merasakan listrik PLN,” ujar Bambang, Minggu (14/12/2025).
Selama ini, kata dia, warga hanya mengandalkan genset yang menyala tidak lebih dari empat jam setiap malam. Selebihnya, gelap kembali menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Namun keadaan itu kini segera berubah. Melalui program Jospol yang digagas Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud bersama Wakil Gubernur Seno Aji, jaringan listrik akhirnya mulai masuk ke desa tersebut.
“Dengan program Jospol Pak Gubernur Rudy Mas’ud dan Pak Wakil Gubernur Seno Aji, kita sudah memasang jaringan listrik di sini. Panjangnya sekitar 12 kilometer, terdiri dari SUTM dan SUTR. Kita berharap akhir Desember ini desa ini sudah bisa menikmati listrik,” katanya.
Secara rinci, Bambang menjelaskan bahwa jaringan yang dibangun meliputi 10 kilometer Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) dan 2 kilometer Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR). Proyek ini akan mengaliri listrik ke sekitar 120 kepala keluarga di Karangan Ilir.
Masuknya listrik ke desa ini bukan sekadar menghadirkan penerangan. Karangan Ilir dikenal sebagai salah satu sentra kakao terbesar di Kalimantan Timur, dengan produksi mencapai 150 ton per tahun dan luas tanam sekitar 141 hektare.
“Dengan adanya listrik, masyarakat bisa mulai melakukan hilirisasi kakao. Tidak hanya menjual biji mentah, tapi juga mengolahnya. Ini akan meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan warga,” kata Bambang.
Selain pertanian, listrik juga menjadi fasilitas penting bagi pengembangan wisata. Desa Karangan Ilir berada di kawasan Goa Karst Mangkalihat, yang dikenal sebagai salah satu warisan geologi dan bagian dari potensi geopark Kalimantan Timur.
“Listrik ini juga akan menjadi fasilitas penunjang wisata karst Mangkalihat. Potensi wisata dan edukasi geologinya sangat besar,” ujarnya.
Bambang menambahkan, hingga saat ini masih terdapat 109 desa di Kalimantan Timur yang belum teraliri listrik PLN. Dinas ESDM, kata dia, terus mendampingi dan membantu PLN dalam percepatan pembangunan jaringan listrik, terutama di daerah terpencil dan sulit dijangkau.
“Ini memang pekerjaan besar. Tapi kami terus berupaya agar tidak ada lagi desa yang hidup dalam gelap,” tegasnya.
Bagi warga Karangan Ilir, masuknya listrik adalah penantian panjang yang akhirnya berujung harapan. Ketua RT 08 Desa Karangan Ilir, Agus Supriadi, menyebut pemasangan tiang listrik yang kini hampir rampung sebagai tanda bahwa penantian itu tidak sia-sia.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Gubernur, Bapak Rudy Mas’ud. Kami mewakili masyarakat Karangan Ilir, khususnya di Kampung Kakao,” kata Agus.
Menurutnya, setelah delapan dekade hidup tanpa listrik, masyarakat kini bisa menatap masa depan dengan lebih terang.
“Harapan kami tidak sia-sia selama 80 tahun ini. Tahun ini, insyaallah, kami sudah bisa merasakan penerangan dari PLN. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih,” pungkasnya.
Di Karangan Ilir, cahaya itu bukan sekadar lampu yang akan menyala. Ia adalah simbol kehadiran negara, sekaligus penanda bahwa pembangunan akhirnya menyentuh desa yang selama ini berada di pinggir peta.[ Red ]
Sumber ; Berita Kaltim














