INFO TERKINI BERAU, TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau saat ini sedang berpacu dengan waktu. Di atas kertas, daerah ini memiliki “modal emas” berupa 6.000 hektare lahan subur. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain: ribuan hektare tersebut terancam terbengkalai akibat krisis regenerasi petani yang kian mengkhawatirkan.Krisis SDM Saat Cangkul Tak Lagi Diminati
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa tantangan kedaulatan pangan saat ini telah bergeser. Masalahnya bukan lagi pada ketersediaan lahan, melainkan pada siapa yang akan mengolahnya.
“Potensi lahan kita sebenarnya cukup besar, tetapi kendala utama ada pada SDM petani. Jumlahnya semakin berkurang dan usia petani yang ada juga sudah tua,” ujar Lita.
Fenomena ini diperparah dengan degradasi minat di kalangan generasi muda. Bagi kaum milenial dan Gen Z di Berau, sektor agraris seringkali dianggap sebagai pekerjaan “kelas bawah” yang melelahkan dan tidak memberikan hasil instan.
Strategi “Memoles” Wajah Pertanian
menyadari stigma negatif tersebut, pemerintah daerah mulai mengubah taktik. Fokus utama kini bukan lagi sekadar mengajak anak muda turun ke lumpur, melainkan membawa teknologi ke tengah sawah. Langkah ini diambil untuk mengubah citra pertanian dari tradisional-kuno menjadi modern-prestisius.
Pemerintah daerah mulai memperkenalkan berbagai inovasi untuk menarik minat anak muda, di antaranya, Mekanisasi Lahan yaitu Penggunaan mesin tanam otomatis. Kemudian ada Teknologi Drone, yaitu Digunakan untuk pemetaan dan pengendalian hama secara efisien. Dan terakhir ada Alat Panen Modern, yaitu Memangkas waktu kerja dan meningkatkan produktivitas hasil.
“Anak muda saat ini cenderung ingin yang instan. Kami berupaya mengubah pandangan itu dengan memperkenalkan mekanisasi,” tambah Lita.
Meskipun visi besar sudah dipetakan, realita anggaran daerah menjadi batu sandungan utama. Keterbatasan dana membuat kerja sama formal pengembangan teknologi dengan berbagai perguruan tinggi belum bisa dieksekusi sepenuhnya tahun ini.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkah DTPHP Berau. Lita menegaskan bahwa pihaknya tetap memanfaatkan Nota Kesepahaman (MoU) yang sudah ada untuk terus menjalin komunikasi dengan akademisi.
Penulis :Bima
Editor : Riki N Abbas














