BERAU, INFO TERKINI BERAU — Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, secara resmi melindungi kawasan ekosistem pesisir seluas 1.500 hektare di Kampung Teluk Sulaiman, Kecamatan Biduk-Biduk. Langkah strategis ini diambil guna menjaga kelestarian flora dan fauna langka melalui penetapan Kawasan Lindung dan Ekowisata Mangrove Segending berdasarkan Keputusan Bupati Berau Nomor 474 Tahun 2016.
Secara ekologis, bagian depan kawasan Mangrove Segending berhadapan langsung dengan laut sehingga sangat dipengaruhi oleh dinamika pasang surut. Pada zona terluar, vegetasi didominasi oleh mangrove jenis api-api (Sonneratia alba) dan api-api putih (Avicennia alba) yang tumbuh pada area relatif sempit.
Perkembangan vegetasi di area tersebut berbatasan langsung dengan vegetasi mangrove asosiasi di bagian belakangnya, seperti mengkulang, daruju (Acanthus), dan berbagai spesies paku. Kehadiran tanaman asosiasi ini didorong oleh proses endapan pasang surut air laut yang tertahan oleh batuan karang di sekitar lokasi.
Keunikan ekosistem lainnya terlihat jelas di kawasan delta sekitar Sungai Asam dan Sungai Buaya Kecil, di mana vegetasi didominasi oleh mangrove jenis Bruguiera. Kondisi ini tergolong unik dan langka karena umumnya Bruguiera tumbuh di zona tengah hingga bagian dalam hutan mangrove.
Persebaran Bruguiera di area delta pesisir tersebut dipengaruhi oleh tingginya proses sedimentasi akibat dinamika pasang surut laut, serta besarnya volume aliran air yang berasal dari kedua sungai utama di kawasan tersebut.
Sementara itu, pada kawasan peralihan antara hutan mangrove dan daratan tinggi, tumbuh subur berbagai tumbuhan asosiasi seperti Heritiera, Acanthus, Pongamia, Pandanus, dan Cerbera. Uniknya, pohon nyamplung yang biasanya dijumpai pada habitat serupa justru tidak ditemukan, sedangkan pohon Xylocarpus tumbuh sangat melimpah.
Kawasan ini juga menjadi habitat penting bagi keanekaragaman fauna, terutama dari kelompok mamalia. Tercatat ada 22 spesies mamalia—dengan 14 spesies di antaranya berhasil didokumentasikan melalui pengamatan langsung—yang didominasi oleh famili Cercopithecidae, Pteropodidae, dan Cervidae.
Berdasarkan data konservasi, sebanyak 17 spesies mamalia di kawasan ini telah terdaftar dalam IUCN Red List. Rinciannya mencakup 8 spesies berstatus Hampir Terancam (Near Threatened), 1 spesies Terancam (Vulnerable), dan 2 spesies Data Kurang (Data Deficient).
Salah satu primata penting yang dilindungi di bentang alam Mangrove Segending adalah bekantan (Nasalis larvatus). Pegiat lingkungan setempat, Gunawan Wibisono, menegaskan betapa krusialnya keberadaan ekosistem ini bagi keberlangsungan hidup satwa endemik tersebut.
“Kawasan Mangrove Segending ini bukan sekadar hamparan pohon bakau biasa, melainkan koridor alami sekaligus rumah bagi belasan satwa terancam punah seperti bekantan yang sangat bergantung pada ketersediaan pakan alami di sini,” ujar Gunawan.
Selain mamalia, kawasan pesisir ini menjadi tempat bernaung bagi 117 individu burung dari 76 spesies dan 46 famili. Kelompok burung dengan jumlah spesies terbanyak berasal dari famili Alcedinidae (raja udang), Megalaimidae (takur), dan Bucerotidae (rangkong).
Dari total spesies burung tersebut, sebagian besar tercatat dalam IUCN Red List (60 spesies Least Concern, 13 spesies Near Threatened, dan 2 spesies Vulnerable). Selain itu, terdapat 1 spesies dalam Apendiks I CITES, 11 spesies dalam Apendiks II CITES, serta 3 spesies yang dilindungi hukum Indonesia.
Melihat potensi ekologi yang luar biasa ini, Gunawan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kelestarian Kawasan Mangrove Segending secara berkelanjutan.
“Potensi keanekaragaman hayati yang tinggi ini menjadikan Mangrove Segending sebagai aset konservasi yang sangat berharga untuk penelitian ilmiah, pendidikan lingkungan, sekaligus pengembangan ekowisata berbasis kelestarian alam di Kabupaten Berau,” pungkas Gunawan. (Bim)















